Catatan
-
Ramadhan Hari Ke-15: Sepi yang Bunyi
Sudah setengah bulan, tapi piring-piring di meja tetap hanya bersuara sendirian. Sendok mengetuk mangkuk, tapi tak ada suara lain yang menyahut. Tidak ada ibu yang menegur kalau aku menuang teh terlalu penuh, tidak ada bapak yang menatap dari balik koran sebelum adzan Maghrib mengudara. Aku tumbuh dengan percaya bahwa Ramadhan bukan sekadar hitungan hari, melainkan ruang di mana waktu menjadi lebih lambat, di mana meja makan bukan sekadar tempat untuk berbagi makanan, tetapi juga detik-detik yang disimpan dalam ingatan. Kini,…
-
WIN ARTINYA MENANG
10 Maret 2024, awal kembalinya sesuatu yang telah lama hilang: kebebasan di atas roda dua. Setelah lebih dari dua tahun menyusuri jalan dengan berjalan, berdesakan dalam angkutan umum —bukan karena sebuah sumpah suci atau keyakinan mulia, melainkan karena tak ada pilihan lain— menumpang hidup dari kebaikan teman atau deru kendaraan pinjaman, akhirnya hari ini aku datang membawa motor yang kupanggil milikku sendiri. Bukan motor mewah, bukan yang jadi pusat perhatian di jalan, tapi semacam pernyataan sunyi: bahwa aku pernah kalah,…
-
YAKIN SELF-LOVE?
Opini jelek ini mungkin akan membuatmu tidak nyaman. Maka, tinggalkan tulisan ini yang nulis Aku duduk di kamar dengan lampu remang, mendengar hujan mengetuk jendela seperti seorang kekasih yang meminta-minta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Di tengah situasi seperti ini aku berpikir bahwa mencintai diri sendiri adalah membungkus tubuh dengan selimut paling lembut, menyesap teh atau kopi yang hangat, lalu berkata pada diri sendiri, “Tidak apa-apa, kamu sudah cukup.” Tapi, semakin aku mengulang mantra itu, semakin aku sadar bahwa aku…