YAKIN SELF-LOVE?

Opini jelek ini mungkin akan membuatmu tidak nyaman. Maka, tinggalkan tulisan ini

yang nulis

Aku duduk di kamar dengan lampu remang, mendengar hujan mengetuk jendela seperti seorang kekasih yang meminta-minta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Di tengah situasi seperti ini aku berpikir bahwa mencintai diri sendiri adalah membungkus tubuh dengan selimut paling lembut, menyesap teh atau kopi yang hangat, lalu berkata pada diri sendiri, “Tidak apa-apa, kamu sudah cukup.” Tapi, semakin aku mengulang mantra itu, semakin aku sadar bahwa aku tidak sedang menyembuhkan diri. Aku hanya sedang mencari pembenaran untuk tetap diam dalam keterpurukan.

Hari ini adalah era di mana mencintai diri sendiri dikemas dengan warna pastel dan kutipan motivasi yang menguap begitu saja setelah kita swipe up. Kita diajarkan bahwa mencintai diri sendiri adalah memanjakan diri, mengambil jeda, dan memaafkan segala kelemahan. Tapi apakah benar begitu? Bukankah cinta yang sejati adalah yang membentuk kita menjadi lebih baik, bukan yang membiarkan kita tetap di tempat yang sama?

Seberapa sering kita menyamarkan kemalasan dengan alasan healing?

Bukankah ada batas antara mencintai diri dan mengasihani diri?

Di sini kita berada di zaman di mana luka bisa dikemas jadi estetik, penderitaan jadi identitas, dan self-love sering kali hanya jadi alasan untuk menyerah. Kita memanjakan diri dengan validasi, bukan keberanian. Kita menikmati simpati lebih dari solusi. Kita memilih menangis dalam diam daripada bergerak mencari jalan keluar. Dan itu pilihan yang sah, tentu saja.

Tapi jangan sebut itu self-love. Jangan beri nama indah pada sesuatu yang sejatinya hanyalah pelarian.

Aku pernah percaya bahwa dunia tidak adil. Bahwa aku berhak merasa kecewa, berhak menangis semalaman, berhak marah pada kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi. Dan tentu saja, aku berhak.

Tapi kemudian aku bertanya, setelah semua itu, apa yang berubah? Tidak ada. Dunia tetap berjalan. Matahari tetap terbit. Hanya aku yang masih duduk di sudut kamar, terperangkap dalam perasaan sendiri.

“Hidup kita adalah apa yang kita pikirkan tentangnya”. Kalimat Marcus Aurelius itu menghantamku seperti gelombang besar yang menghempaskan seorang perenang malas. Jika aku terus melihat diriku sebagai korban, maka aku akan tetap menjadi korban. Jika aku terus mengasihani diri sendiri, maka aku akan menjadi seseorang yang bergantung pada simpati orang lain, bukan seseorang yang bangkit dan berjalan.

Aku mulai memahami bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan, tapi menerima hidup dengan segala ketidaksempurnaannya, lalu bergerak maju. Mencintai diri sendiri bukan berarti menutup luka dengan selimut kesedihan, tapi merawat luka itu dengan keberanian. Aku mulai bertanya, apakah aku benar-benar mencintai diriku sendiri? Atau aku hanya mencari alasan untuk tetap berada di zona nyaman, dalam dekapan keputusasaan yang sudah begitu akrab?

Ada orang-orang yang berhenti mencoba bukan karena mereka benar-benar hancur, tetapi karena mereka menemukan kenyamanan dalam kehancuran itu. Ada orang-orang yang menjadikan luka sebagai identitas, bukan sebagai sesuatu yang harus disembuhkan. Dan ironisnya, dunia justru memberi mereka panggung. Di media sosial, air mata bisa mendulang ribuan like, dan penderitaan bisa menjadi konten yang dikemas dengan estetik. Seolah-olah semakin hancur seseorang, semakin layak ia mendapat perhatian. Aku melihat banyak orang merayakan kehancuran mereka seperti puisi sedih yang dibuat untuk dikagumi, bukan untuk diatasi.

Aku tidak mau menjadi seperti itu. Aku tidak mau menjadi seseorang yang menjadikan kesedihan sebagai tempat tinggal, hanya karena dunia bersedia mendengarkan keluhanku. Aku ingin mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih jujur—dengan menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tapi aku masih bisa memilih bagaimana aku menjalani hari-hariku. Aku ingin mencintai diri sendiri dengan keberanian, bukan dengan meminta dunia untuk terus mengasihaniku.

Di luar jendela, hujan mulai reda. Dan aku tahu, esok hari aku masih punya pilihan: tetap di tempat yang sama, atau melangkah, meskipun hanya selangkah lebih maju dari kemarin.

Jadi, kapan terakhir kali kamu benar-benar mencintai dirimu sendiri? Bukan dengan memanjakan, bukan dengan mencari pembenaran, tapi dengan berani menghadapi dunia tanpa takut jatuh. Sebab self-love jelas tidak sama dengan self-pity.