10 Maret 2024, awal kembalinya sesuatu yang telah lama hilang: kebebasan di atas roda dua.
Setelah lebih dari dua tahun menyusuri jalan dengan berjalan, berdesakan dalam angkutan umum —bukan karena sebuah sumpah suci atau keyakinan mulia, melainkan karena tak ada pilihan lain— menumpang hidup dari kebaikan teman atau deru kendaraan pinjaman, akhirnya hari ini aku datang membawa motor yang kupanggil milikku sendiri. Bukan motor mewah, bukan yang jadi pusat perhatian di jalan, tapi semacam pernyataan sunyi: bahwa aku pernah kalah, tapi tak lenyap.
Jauh sebelum sekarang, keadaan memaksaku menjual motor dengan perasaan yang sulit dijelaskan—seperti menyerahkan sebagian dari diriku sendiri demi bertahan hidup. Usaha yang sedang kutekuni saat itu masih jauh dari kata layak.
Masa itu mengajarkanku tentang arti kehilangan. Aku pernah mengira bahwa motor hanyalah barang, sesuatu yang bisa dibeli kapan saja ketika uang ada. Tapi ketika aku harus melepaskannya, aku sadar bahwa ia lebih dari itu. Motor adalah kawan perjalanan, saksi dari setiap tawa, kebingungan, dan kesedihan yang menyertainya.
“…believed in miracles ’cause I’m one,
I have been blessed with the power to survive.
After all these years, I’m still alive” —
lirik dari Ramones ini terngiang di kepala saat aku lelah berjalan kaki ke tempat jualan, saat muak menunggu angkutan umum di bawah terik matahari, saat kesal mengingat bahwa dulu aku bisa bebas berkendara ke mana pun tanpa bergantung pada siapapun. Aku belajar bahwa kemandirian itu mahal, tetapi kehilangan kemandirian lebih menyakitkan.
Di masa kecil, motor adalah simbol petualangan. Ayah dulu sering membawaku keliling desa dengan motor. Aku masih ingat bagaimana suara mesin yang bergetar di jalan tanah, angin yang menerpa wajahku, dan sensasi kebebasan yang tak bisa dijelaskan. Membeli motor ini juga soal menemukan kembali bagian dari diriku yang pernah hilang.
Banyak orang mungkin melihat ini sebagai hal yang sepele—membeli motor? Apa istimewanya? Tapi mereka tak tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang dulu kau anggap remeh.
“He who has a why to live can bear almost any how.” Aku memahami ucapan Nietsche itu lebih dalam selama dua tahun terakhir. Aku bertahan bukan karena aku menikmati penderitaan, tetapi karena aku tahu bahwa ada sesuatu yang layak diperjuangkan.
Selama masa-masa itu aku menelan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Aku belajar bahwa usaha yang baik bukan hanya soal menghasilkan uang, tetapi soal bagaimana bertahan saat semuanya terasa berat. Aku menolak untuk menyerah, menolak untuk membiarkan keadaan mengalahkanku. Jika aku harus merangkak selama bertahun-tahun untuk kembali ke titik ini, maka ini adalah harga yang layak dibayarkan.
Ketika akhirnya aku membeli motor impian ini, rasanya seperti menghidupkan kembali potongan diriku yang dulu tertidur. Aku merasakan kembali sensasi yang dulu kurindukan—suara mesin yang menyala, angin yang menerpa, dan kebebasan yang hanya bisa diberikan oleh dua roda.
Sekali lagi aku ingatkan, motor ini tidak mewah. Ia bukan motor besar dengan teknologi terbaru, bukan yang akan membuat orang terkesima. Tapi ia memiliki nilai yang jauh lebih besar. Ia adalah bukti bahwa aku bisa bangkit setelah jatuh.
Jean-Paul Sartre pernah berkata bahwa manusia adalah makhluk yang menciptakan makna bagi dirinya sendiri. Motor ini mungkin hanyalah sekumpulan besi dan baut-baut karat bagi orang lain, tetapi bagiku, sama saja sih. Ehehehe. Eh tapi itu juga bisa jadi simbol dari kemenangan kecil dalam hidup.
Aku ingat hari pertama mengendarainya, rasanya seperti pertama kali naik sepeda tanpa roda bantu—ada ketakutan, ada kegembiraan, ada kelegaan. Kini, aku bisa berkendara lagi. Aku bisa pergi ke tempat-tempat yang dulu harus kutinggalkan karena keterbatasan. Aku bisa merasakan kembali kebebasan yang dulu sempat direnggut.
Tapi lebih dari itu, aku belajar sesuatu yang lebih besar: bahwa hidup ini penuh dengan siklus kehilangan dan pemulihan. Yang hilang bisa kembali, yang jatuh bisa bangkit, dan yang terjebak bisa menemukan jalannya.
Kini, setiap kali aku menyalakan motor ini, aku selalu ingat perjalanan panjang yang membawaku ke titik ini. Aku ingat rasa lelah, rasa iri, rasa putus asa ketika keadaan memaksaku untuk berhenti.
Banyak orang mengukur keberhasilan dari banyak hal: saldo, gelar, jabatan, properti, cap pelbagai imigrasi di paspor, dan lain sebagainya. Itu sah dan itu adalah hak, akan menjadi salah dan “hiks” ketika mengukur keberhasilan dengan alat ukur orang lain. Apalagi sampai harus sibuk mengukur keberhasilan orang lain dengan alat ukur diri sendiri. Bagiku, keberhasilan hari ini adalah bisa membeli kembali sesuatu yang dulu harus kulepaskan karena keadaan. Kita semua punya kisah bertahan hidup sendiri. Aku hanya salah satu dari orang-orang yang berjuang untuk tetap berdiri.
Bagi siapapun yang sedang berjuang, ingatlah: selagi kau masih bergerak, kau belum kalah.