7 Puisi 2024

kereta tak pernah benar-benar berhenti untuk kita

stasiun ini adalah gerbong waktu yang terus berlari.
kemana kau pergi?
sedang aku tetap di sini.

adakah waktu bagi kita untuk berhenti dan bertanya;
apakah arti perjalanan?
aku ingin melompat,
tak peduli dimana stasiun terakhir.

aku melihat wajah-wajah yang lelah mencari pulang.
tapi, apakah mereka pulang?
atau hanya menunggu perjalanan berikutnya,
menuju rumah yang selalu jauh,
selalu tak terjangkau.

adakah arti perjalanan jika kita tak pernah tiba?

di sini aku tetap mencari jejak langkah yang tertinggal di peron—
sebuah tanda bahwa kita pernah ada,
meski sebentar,
meski tak pernah tiba,
sebab kereta
tak pernah benar-benar berhenti untuk kita.

lobioskop

kita adalah pecandu visual dalam warna neon,
popcorn, dan soda.
hidup sudah terjual
bersama tiket film hollywood murahan.

pikiran terus menggulung
seperti roll film yang tak pernah habis,
film yang tak kunjung menjawab pertanyaan;
tentang siapa aku,
tentang siapa kita semua—
penonton yang terus mencari layar,
tanpa pernah melihat diri sendiri.

kubah

ada doa yang terhempas,
mengapung di antara awan putih dan genteng merah,
seperti suara yang hilang
di bawah cahaya yang tenang.

kubah itu,
diam di sana,
bersama awan putih yang melukis jalan-jalan yang belum bisa kulalui.

di bawah langit yang tak pernah jatuh,
di bawah kubah yang tak pernah runtuh,
doa-doa berserak,
tubuh-tubuh bersujud.

tetapi di luar,
ada aku
yang keresahan,
yang mesti ditebus oleh doa.

senja menyulam langit

melankoli menyusup lembut,
menemani setiap pantulan,
seperti suara sunyi yang berbicara
tentang apa yang telah hilang
dan apa yang mungkin datang.

di balik kaca, senja menyulam langit
dengan benang merah muda dan oranye.

waktu adalah gelas pasir yang jatuh perlahan,
dan aku adalah debu di antara bayang-bayang
siluet rumah di seberang,
saksi bisu dari perjalanan yang hilang.

damai, tenang,
namun di kedalaman warna-warna ini
tersembunyi kesunyian pengasingan,
seperti daun-daun yang tak mengenal akarnya,
seperti pengembara yang tersesat,
seperti puisi yang belum selesai.

aku, di balik jendela ini,
mencuri bayang langit, menelan pantulan diri.
mengeja namamu
dari setiap debu yang beterbangan di angin.

lebih baik duit

apa arti cinta kalau perut kosong?
jalanan penuh debu,
kota menelan bisu.

aku berjalan di bawah matahari yang tak mengenal ampun,
seolah membakar mimpi seluruh malam.

di antara tawa getir dan jejak langkah yang terhapus,
kita sering berkata;
lebih baik duit
dan kita tahu bahwa kita tak bohong.

pacar?
apa gunanya?
bunga di tangan pun layu tanpa air.

cinta adalah kemewahan yang tak kita miliki,
sementara kita mengejar bayang-bayang remah kehidupan,
yang menari di ujung mata.

tapi uang, ya, uang,
adalah dunia yang bernafas,
lembaran yang memberi kita ilusi kekal— meski hanya sebentar.

kita bicara tentang stress,
tentang malam-malam yang dipeluk kekosongan,
lebih tajam dari jarum cinta yang tak datang.

dan kau,
wahai perempuan dengan tawa yang melawan.
kau tahu lebih baik tak punya pacar daripada terbelenggu oleh ketiadaan.

di sudut kota yang meledak dalam diam,
kita mengejar harapan yang tak peduli cinta.

duit adalah pelarian kita,
bukan karena kita serakah,
tapi karena dengan itu,
kita bisa tetap berdiri,
menatap dunia dengan mata yang tetap terbuka,
meski hati kita terjebak dalam puing-puing yang tak pernah selesai jatuh.

kudapan cantik

di atas meja ini,
terhidang cantik,
tapi akankah ia bertahan?

aku duduk, memandanginya,
seperti menatap hidup yang tak henti-henti
menggoda kita dengan keindahan
yang hanya sesaat.

ia ada hanya untuk lenyap,
seperti hidup yang kita kunyah pelan,
sedikit demi sedikit,
hingga akhirnya habis,
dan kita pun kembali pada kekosongan.

keindahan terhidang,
tapi aku tahu,
tak ada yang abadi,
tak ada yang tersisa,
kecuali kenangan pahit di ujung lidah,
ketika gigitan terakhir meninggalkan kita
dalam sunyi yang lebih panjang.

aku makan,
aku nikmati,
tapi aku tahu,
bahkan kenikmatan ini
adalah sebuah pertempuran kecil
antara tubuh dan waktu,
antara rasa yang hilang
dan ingatan yang tak pernah penuh.

aku ingin memelukmu

kau di sana,
senja menyentuh bahumu,
angin mengusap pipimu
rambutmu tergerai,
sebagaimana nyala api yang menari di ufuk barat.

aku ingin mencium aroma angin
yang menyentuh kulitmu,
tapi aku adalah pengecut
yang memeluk bayanganku sendiri.

seperti chairil memecah malam,
"aku ingin hidup seribu tahun lagi,
hanya untuk berada di sampingmu!"

tapi lidahku kaku,
seperti pepohonan yang tak mampu bicara,
dan aku tak lebih dari lelaki
yang takut akan suaranya sendiri.

bagaimana aku bisa merengkuhmu,
jika aku terlalu takut pada cinta
yang menjulang di antara kita.

malam datang,
tapi aku masih di sini,
terperangkap dalam diam.

aku ingin memelukmu dari belakang,
seperti langit memeluk bumi sebelum fajar.

Related posts

No related posts were found.