Sudah setengah bulan, tapi piring-piring di meja tetap hanya bersuara sendirian. Sendok mengetuk mangkuk, tapi tak ada suara lain yang menyahut. Tidak ada ibu yang menegur kalau aku menuang teh terlalu penuh, tidak ada bapak yang menatap dari balik koran sebelum adzan Maghrib mengudara. Aku tumbuh dengan percaya bahwa Ramadhan bukan sekadar hitungan hari, melainkan ruang di mana waktu menjadi lebih lambat, di mana meja makan bukan sekadar tempat untuk berbagi makanan, tetapi juga detik-detik yang disimpan dalam ingatan. Kini,…